Purwokerto, 2 September 2025 – Suasana penuh semangat terlihat jelas di Ballroom Luminor Hotel Purwokerto, Selasa pagi (2/9), saat ratusan peserta mengikuti “Independence Day: Artificial Intelligence Conference”. Seminar ini diselenggarakan oleh Digital Creative Community (DICO) bersama, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Purwokerto sebagai bagian dari peringatan HUT RI ke-80 sekaligus pembuka gerakan literasi AI dalam program nasional cermAI.
Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini menghadirkan lebih dari 400 peserta yang didominasi oleh pelajar SMA/K/MA, guru, mahasiswa, dan komunitas digital. Mereka hadir tidak hanya dari Purwokerto, tetapi juga dari beberapa daerah di sekitarnya. Kehadiran yang begitu antusias ini membuktikan bahwa topik kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi magnet baru bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Sejak pintu registrasi dibuka, peserta sudah bersemangat memenuhi ruangan. Banyak di antara mereka yang sebelumnya hanya mengenal AI dari berita atau media sosial, kini bisa belajar langsung dari pakar yang berpengalaman di berbagai bidang.
“Saya kira seminar AI itu akan rumit dan penuh istilah teknis. Tapi setelah ikut sesi pertama, ternyata materinya sangat membumi dan mudah dipahami. Saya jadi ingin belajar lebih banyak tentang AI,” ujar Rizky Maulana, siswa kelas XI SMA Negeri di Banyumas.
Para guru pun turut menyambut hangat kegiatan ini. Mereka menilai bahwa seminar ini membuka perspektif baru tentang bagaimana AI bisa diintegrasikan dalam pembelajaran di kelas. “Materinya sangat relevan dengan kebutuhan guru masa kini. Kami jadi paham bahwa AI bukan ancaman, melainkan alat bantu yang bisa membuat pembelajaran lebih menarik,” kata Siti Nurhayati, S.Pd, salah seorang guru yang hadir.
Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari program nasional cermAI (Cerdas Menggunakan Artificial Intelligence), yang menargetkan pelatihan untuk 5000 guru dan 10.000 siswa SMA/K/MA sederajat di seluruh Indonesia. Melalui seminar ini, guru dan siswa diperkenalkan pada berbagai aspek AI, mulai dari pemanfaatan sehari-hari hingga peluang masa depan di dunia kerja.
Menurut Bryan Giva, Co-Founder DICO, pemahaman dasar AI sejak dini adalah bekal penting menghadapi era digital. “Dengan literasi AI, kita ingin mencetak generasi yang tidak hanya pintar menggunakan teknologi, tapi juga mampu menciptakan solusi yang sesuai kebutuhan Indonesia,” jelasnya.
Enam narasumber yang hadir di acara ini dari latar belakang berbeda hadir memberikan wawasan luas seputar AI, diantaranya Bryan Giva (Co-Founder DICO) menekankan kolaborasi komunitas digital, Dr. Ir. Hurul Hidayat, M.Kom (Unsoed & DPP APTIKOM) menyoroti peran kampus dalam menyiapkan SDM unggul, Verry Riyanto, M.Kom (UBSI) menegaskan pentingnya Purwokerto sebagai pusat literasi digital, Pujianto, SE (ASPIKMAS) mengaitkan AI dengan pemberdayaan masyarakat, Refa Anisatul (Data Scientist BCA) membagikan penerapan AI di industri perbankan dan Joddy Caprinata (Posting Indonesia) memberi motivasi wirausaha berbasis AI.
Yang menarik, hampir seluruh narasumber mengaitkan materi mereka dengan peran guru dan siswa sebagai garda terdepan regenerasi bangsa. Pesan ini disambut meriah oleh peserta, terutama guru yang merasa dihargai dan diposisikan sebagai penggerak perubahan.
Berbeda dengan seminar akademik yang biasanya kaku, acara ini berlangsung cair dan interaktif. Peserta diberi kesempatan bertanya langsung, bahkan beberapa siswa berani mengajukan ide kreatif mereka di depan narasumber. Salah satunya, Dinda Safitri, siswi MA di Cilacap, menanyakan bagaimana AI bisa membantu meningkatkan minat baca generasi Z. Pertanyaan itu disambut dengan jawaban yang memantik diskusi hangat tentang aplikasi AI dalam bidang literasi.
“Melihat anak-anak berani bertanya seperti ini sungguh membanggakan. Inilah bukti bahwa generasi muda kita siap menyongsong era baru,” ujar Dr. Hurul Hidayat.
Setelah acara selesai, banyak peserta menyampaikan bahwa seminar ini telah mengubah cara pandang mereka terhadap teknologi. Para guru merasakan motivasi baru untuk mengadopsi teknologi dalam pembelajaran, sementara para siswa mendapat inspirasi untuk menjadikan AI sebagai bidang karier masa depan.
“Kami akan coba membuat kelas kecil di sekolah untuk belajar AI secara mandiri. Materi dari seminar ini sangat membantu sebagai titik awal,” ungkap Wahyu Hidayat, seorang guru SMA di Purbalingga.
Melalui kesuksesan acara ini, UBSI dan DICO optimistis bahwa gerakan literasi AI akan semakin meluas. Seminar ini tidak hanya memperingati HUT RI ke-80, tetapi juga meneguhkan komitmen bahwa kemerdekaan bangsa harus diikuti dengan kemerdekaan digital.
“Dari antusiasme peserta, kita bisa lihat bahwa guru dan siswa sangat haus akan pengetahuan baru. Inilah saatnya kita menjadikan AI sebagai sahabat, bukan sekadar tren. Harapannya, acara seperti ini terus berlanjut di berbagai kota,” ujar Verry Riyanto dalam penutupannya.
Dengan semangat kemerdekaan digital, Purwokerto kini menjadi saksi lahirnya gerakan besar yang melibatkan ribuan guru dan puluhan ribu siswa di seluruh Indonesia. Sebuah langkah nyata menuju Indonesia Emas 2045 yang mandiri secara digital.



