Inovasi Mahasiswa TI UBSI Tegal Tembus Krenova 2026, Soroti Urgensi Sistem Deteksi Dini Kebakaran

 

Tegal — Di tengah meningkatnya risiko kebakaran permukiman dan keterbatasan respons awal di tingkat lokal, inovasi berbasis teknologi kembali menunjukkan relevansinya. Tim mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi UBSI Kampus Tegal menorehkan capaian dalam ajang Krenova Kota Tegal 2026 dengan meraih Juara Harapan III melalui karya DKC Technology (Deteksi Kebakaran Cerdas untuk Tanggap Darurat Pemadam Kebakaran).

Inovasi ini tidak sekadar menawarkan perangkat deteksi kebakaran, melainkan mengusung pendekatan sistem yang terintegrasi—mulai dari identifikasi dini potensi api hingga dukungan pengambilan keputusan dalam situasi darurat. Di tengah realitas masih minimnya sistem peringatan dini berbasis teknologi di tingkat masyarakat, solusi semacam ini dinilai memiliki urgensi tinggi.

Tim Inventor mahasiswa prodi TI terdiri dari Pranata Dinar Arreza, Laola Anni’matun Ardillah, dan Sulthan Hafizh Bartholomeo. Mereka merancang sistem yang diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kejadian kebakaran dan kecepatan respons, yang selama ini kerap menjadi faktor penentu besarnya dampak kerugian.

Ajang Krenova yang digelar pada 16 April 2026 di Ruang Adipura Kota Tegal menjadi panggung kompetisi inovasi lintas sektor. Kepala Dinas Bapperida Kota Tegal, M. Ismail Fahmi, S.IP., M.SI mengungkapkan bahwa sebanyak 101 proposal masuk dalam seleksi tahun ini. Proses penilaian dilakukan secara berlapis, mencakup verifikasi administrasi hingga uji substansi oleh tim juri dengan indikator kebaruan, kemanfaatan, dan potensi implementasi.

“Persaingan cukup ketat, karena setiap inovasi tidak hanya dituntut kreatif, tetapi juga aplikatif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, SE., M.Myang menekankan pentingnya hilirisasi inovasi. Ia menyoroti bahwa tantangan utama bukan pada lahirnya ide, melainkan pada keberlanjutan implementasi di lapangan.

“Banyak inovasi berhenti di kompetisi. Ke depan, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengimplementasikan dan mengintegrasikan solusi tersebut dalam sistem layanan publik,” kata Dedy.

Dari sisi akademik, capaian ini dipandang sebagai indikator mulai menguatnya ekosistem riset terapan di tingkat program studi. Ketua Prodi TI UBSI Tegal, Suleman, M.Kom, menilai bahwa keberhasilan mahasiswa tidak lepas dari dorongan pembelajaran berbasis proyek dan kebutuhan nyata di masyarakat.

Menurutnya, inovasi seperti DKC Technology menjadi contoh konkret bagaimana ilmu teknologi informasi dapat diarahkan untuk menjawab persoalan riil, khususnya di sektor mitigasi bencana. “Ke depan, tantangannya adalah bagaimana inovasi ini tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi bisa dikembangkan menjadi sistem yang benar-benar digunakan,” ujarnya.

Kehadiran Sekretaris Daerah Kota Tegal bersama jajaran OPD dalam acara tersebut turut menegaskan arah kebijakan pemerintah daerah yang mulai memberi ruang lebih besar pada inovasi berbasis masyarakat dan akademisi.

Capaian mahasiswa UBSI Tegal ini sekaligus menegaskan bahwa peran generasi muda dalam ekosistem inovasi tidak lagi sebatas partisipatif, melainkan mulai bergerak ke arah solutif. Dalam konteks meningkatnya kompleksitas risiko kebakaran di kawasan urban, inovasi berbasis deteksi dini seperti DKC Technology berpotensi menjadi bagian penting dari sistem mitigasi bencana yang lebih adaptif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *